Kamis, 24 Maret 2011

TETANUS



 

NAMA:IMA ROHMIATI

KLS:A/KP/V1
NIM:04.08.1886

TETANUS

 

 Pengertian

Tetanus adalah suatu penyakit infeksi akutmyang disebabkan oleh eksotoksin spesifik dari kuman anaerob clostridium tetani (Syamsuhidayat, 1997).

     Tetanus adalah penyakit akut, bahkan fatal, yang disebabkan oleh toksin yang dihasilkan oleh bakteri Clostridiium tetani.
     Penyakit tetanus merupakan salah satu infeksi yang berbahaya karena mempengaruhi system urat saraf dan otot.
Kata tetanus diambil dari bahasa Yunani yaitu tetanus dari teinein yang berarti menegang. Penyakit ini adalah penyakit infeksi dimana spesme otot tonik dan hiperrefleksia menyebabkan trismus (lockjaw), spasme otot umum, melengkungnya punggung (opistotonus), spasme glottal, kejang dan paralisis pernafasan.
      Tetanus adalah suatu penyakit yang ditandai dengan hypertonia, nyeri pada otot yang mengalami kontraksi (biasanya otot rahang dan leher), dan spasme (gerakan yang terjadi dengan sendirinya) otot menyeluruh tanpa penyebab yang jelas.
      Penyakit tetanus adalah penyakit akut yang disebabkan oleh eksotoksin yang dikeluarkan oleh basil tetanus yang masih hidup secara anaerobic pada luka.
Ciri khas dari tetanus adalah adanya kontraksi otot disertai rasa sakit, terutama otot leher kemudian diikuti dengan otot-otot seluruh badan.

      Tetanus adalah penyakit infeksi yang diakibatkan toksin kuman Clostridium tetani, bermanifestasi dengan kejang otot secara proksimal dan diikuti kekakuan otot seluruh badan. Kekakuan tonus otot massater dan otot-otot rangka.

II Pathofisiologi          
Clostridium tetani adalah kuman berbentuk batang, ramping, berukuran 2-5 x 0,4-0,5 milimikro yang bersepora termasuk golongan gram positif dan hidupnya anaerob. Kuman mengeluarkan toksin yang bersifat neurotoksik. Toksik ini (tetanusspasmin) mula-mula akan menyebabkan kejang otot dan saraf perifer setempat. Toksin ini labil pada pemanasan, pada suhu 65° C akan hancur dalam lima menit. Disamping itu dikenal pula tetanolysin yang bersifat hemolisis, yang peranannya kurang berarti dalam proses penyakit.

III. Tanda  Dan Gejala :

      1.Lokal : nyeri, kaku dan spasme dari daerah yang terluka
      2.Umum : - Trismus ( sukar membuka mulut )
-          Risos sardinikus ( kekauan pada otot –otot wajah )
-          Kaku kuduk, epistotonus, perut tegang(papan0
-          Kejang tonik umum, kejang rangsang(terhadap visual, suara dan taktil)kejang spontan dan retensi urine.
IV. Diagnosis
      Diagnosis cukup ditegakan berdasarkan gejala klinis karena pemeriksaan kuman Clostridium Tetani belum tentu berhasil.
Stadium dibagi dalam :
1.      Stadium 1: Trismus ( 3cm) tanpa kejang tonik umum walau dirangsang
2.      Stadium 2: Trismus ( <3cm) dengan kejang tonik umum bila dirangsang
3.      Stadium 3: Trismus ( 1cm ) dengan kejang tonik umum spontan.

V.Komplikasi
1 Spasme otot faring
2.Pnemonia aspirasi
3.Asfiksia
4.Atelektasis
5.Fraktur kompresi
:
VI. Penatalaksanaan :
1.      Pencegahan :
a.Bersihkan port d”entrée, dengan larutan H2O2 3%
b.Anti Tetanus Serum(ATS) 1500UIM.
c.Toksoid Tetanus (TT),dengan memperhatikan status immunisasi
d. Penisilin Prokain (PP) 2-3 hari, 50.000 U/Kg?Bbhari.
2.      Pengobatan :
a.Anti Tetanus Serum (ATS) 50.000U/hari, selama 2 hari berurut-turut, hari I diberikan dalam infus glukosa 5% 100ml, hari ke II, diberikan IM lakukan uji kulit. mata sebelum pemberian, bila hasil +,ATS.diberikan secara bedreska.
b. Fenobarbital: dosis initial50 mg( umur <1tahun ) : 75 mg( umur >1tahun )dilanjutkan 5 mg?kg BB/hari dibagi 6 dosis.
            c. Diazepam dosis 4 mg./Kg.BB/hari dibagi dalam 6 dosis
            d. largactil: dosis 4 mg/kgBB.hari
e. Kloralhidrat 5%(bila kejang sukar diatasi)/rektal dosis 50 mg/kg/hari dibagi 3-4 dosis.
f. PP. 50.000 U/Kg.BB/hari IM sampai  3hari demam turun, satu tempat suntikan tidak lebih dari 600.000 U.
g. Diet TKTP.bila trismus diberi diet cair melalui NGT.
h. Isolasi
i.Oksigen 2l /menit
j. Bersihkan por d’entrée dengan larutan H2O2 3%
k. Toksoid Tetanus (TT) diberikan sesuai dengan status immunisasi
Asuhan keperawatan :
A.Pengkajian :
            Data fokus meliputi :
1.      Apakah ada riwayat luka tusuk, bakar atau luka tembak.
2.      Apaka pernah digigit hewan
3.      Apakah sedang menderita infeksi telinga atau gigi berlubang.
4.      Pada neonatus : pengkajian prenatal, antal dan Post natal.
5.      Keadaan umum klien
6.      Tanda-tanda vital
7.      Pemeriksaan fisik
B. Diagnosa keperawatan ;
1.      Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d adanya sekret dalam trkhea, sekunder terhadap kejang.
2.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d adanya gangguan trismus.
3.      Gangguan mobilitas fisik b/d adanya kejang.
4.      Gangguan istirahat dan tidur b/d kejang berulang
5.      Ansietas b/d kejang berulang.
C. Perencanaan :
1.      Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d adanya sekret dalam trakhea sekunder terhadap kejang :
Tujuan ;
Bersihan jalan nafas efektif.
Kriteria hasil :
RR. 16-20X/menit:Sianosis(-): sekret dalam trakhea bersih, Wheezing-/-
Ronchi-/-:
Rencana :
a.       Informasikan penyebab gangguan bersihan jalan nafas
R.:memberikan dasar pengetahuan
b.      Atur posisi tidur klien ( semi fowler)
R.:Menurunkan tekanan diafragma
c.       Observasi frekuensi, ritme, dan kedalaman pernafasan
R.;Deteksi dini gangguan pernafasan
d.      lakukan penghisapan lendir secara teratur s/d kebutuhan :
R.;Menghindari obstruksi jalan nafas
e.       Berikan tambahan O2 sesuai dengan kebutuhan 2-3 l/menit.
R.: Meningkatkan/memaksimalkan kebutuhan oksigen.
2.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d adanya trismus
Tujuan :
Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria hasil
BB. Naik, Albumin dbn.Hb.dbn.:klien mau makan.
Rencana :
a.       Berikan pengertian tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh.
R.:Agar termotivasi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi
b. Berikan diet TKTP bertahap s/d keadaan trismus
R.:Meminimalkan/menyesuaikan dengan keadaan otot-otot pengunyah
c. Dorong klien untuk minum 2000-2500ml/hari atau s/d BB.jika tidak ada kontraindikasi
R. Mencegah dehidrasi dan menurunkan resiko konstipasi.
d. Catat masukan / oral
R.: Untuk memantau kebutuhan nutrisi
            3. Gangguan mobilitas fisik b/d kejang.
Tujuan : Mobilitas fisik tidak terganggu
Kriteria : Mendemontrasikan tehnik / perilaku yang memungkinkan melakukan kembali aktifitas.
Rencana :
1. Tingkatkan aktifitas dengan periode waktu istirahat
R : Meningkatkan penyembuhan dan melatih kekuatan otot.
2. Anjurkan klien berpartisipasi dalam aktifitas sesuai dengan keterbatasan
R : Peranserta klien akan meningkatkan kemandirian
3. Bantu klien sesuai dengan kebutuhan
R : Aktifitas dibatasi, tingkatkan secara perlahan
4. Gangguan istirahat tidur b/d kejang berulang
Tujuan : Kebutuhan istirahat tidur terpenuhi.
Kriteria : Klien dapat tidur 8-10 jam/hari. Dan Kejang berkurang.
Rencana :
1. Kurangi timbulnya kejang dengan menciptakan lingkungan yang tenang dan membatasi mengunjung.
R : Lingkungan yang tenang mengurangi rangsangan timbulnya sehingga klien dapat tidur kejang cukup
2. Berikan suasana sesuai dengan keinginan/kebiasaan klien
R : Tidak ada perubahan dalam kebiasaan tidur sehingga klien dapat tidur dengan nyaman
3. Kolaborasi pemberian obat anti kejang
R : Menurunkan serangankejang sehingga dapat mengoptimalkan waktu tidur.
5. Ansietas b/d kejang berulang
Tujuan : Klien dapat mengontrol kecemasan
Kriteria : Klien tampak tenang.
Rencana :
1.      Jelaskan sebab terjadinya kejang
R. Memberikan dasar konsep agar klien kooperatifterhadap tindakan untuk mengurangi kejang.
2.      Jawab pertanyaan klien dengan jujur dan sopan.
R.: Informasiyang tepat dapat mengurangi kecemasan
3. Kaji tersedianya dukungan pada klien yaitu (suami, istri dan anak)
R.: Menjadi sumber yang mengurangi kecemasan.


Daftar Pustaka

Barbara C.Long, (1996), Perawatan Medikal Bedah, Yayasan IAPK, Pajajaran Bandung

Hendanwanto, (1996), Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Balai Penerbit FKUI, Jakarta


















































Tidak ada komentar:

Posting Komentar